468x60 Ads

.
This is an example of a HTML caption with a link.
Tampilkan postingan dengan label Air Terjun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Air Terjun. Tampilkan semua postingan

Coban Canggu - Pacet - Mojokerto

0 komentar

Air Terjun Coban Canggu memiliki ketinggian sekitar 70 meter.  Obyek wisata ini berada di lereng Gunung Welirang pada ketinggian ± 800 meter dpl
 
Lokasi
Terletak di Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Propinsi Jawa Timur.

Aksesbilitas
Berjarak 32 km dari pusat kota Mojokerto atau sekitar 3 km dari pusat kota Pacet arah selatan.  Akses menuju kesana sangat mudah untuk dikunjungi baik dengan kendaraan roda empat ataupun roda dua. 
Untuk menuju kawasan Pacet ada banyak rute yang bisa ditempuh:
Jika ditempuh dari Mojokerto kita bisa lewat rute Mojokerto – Pacet dengan jarak tempuh 30 kilometer, atau bisa lewat rute Mojokerto - Mojosari – Pacet yang berjarak sekitar 40 kilometer.
Jika dari Surabaya bisa lewat rute Krian – Mojosari – Pacet, atau lewat rute Sidoarjo – Gempol – Mojosari – Pacet. Kedua rute ini berjarak sekitar 60 kilometer dari Surabaya.
Sedangkan jika dari arah Pasuruan dan kota-kota di wilayah “tapal kuda” bisa lewat rute Gempol – Pandaan – Prigen – Trawas – Pacet, atau bisa lewat rute Gempol – Mojosari – Pacet.
Juga dari arah Malang bisa lewat rute Pandaan – Prigen – Trawas – Pacet, atau lewat rute Batu – Cangar – Pacet.

Sedangkan untuk mencapai air terjun harus menuruni anak tangga yang jumlahnya puluhan. Tidak hanya itu, jalan menuju air terjun ini tidaklah mulus. Tetapi, penuh kelok dan harus melewati jalan setapak, serta menyeberangi beberapa aliran air.  Jarak tempuh menuju air terjun ini sekitar 0,5 km.

Tiket dan Parkir
Harga tiket masuk adalah Rp 2.500 per orang.

Fasilitas dan Akomodasi

Tersedia warung-warung yang menyediakan makanan khas daerah setempat, dan pondok wisata yang disewakan untuk umum.  Juga banyak terdapat vila yang disewakan apabila ingin menginap dengan harga berkisar mulai Rp250.000 hingga Rp750.000 per malam.

Sumber:
http://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-timur/coban-canggu---mojokerto

Air Terjun Tretes - Wonosalam - Jombang

0 komentar

Air Terjun Tretes merupakan air terjun tertinggi di Jawa Timur dan sangat indah dengan dua aliran air terjun sekaligus yang mengalir ke bawah.  Air terjun ini memiliki ketinggian 158 meter, terletak di ketinggian 1250 meter di atas permukaan air laut dan merupakan hulu sungai Sumber Watu Bonakah.
Air terjun ini terletak di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soeryo di Gunung Jurug Guah dalam komplek Gunung Anjasmoro (2277 m), dimana kawasan ini merupakan kawasan hutan lindung yang masih terjaga keaslian dan keindahan alamnya.  Secara geologis kawasan ini merupakan batuan hasil gunung api kuarter tua. Pada kawasan ini terdapat aliran sungai yang merupakan sambungan dari air terjun tersebut, sehingga untuk kebutuhan air di kawasan ini dapat terpenuhi dengan baik. Curah hujan di kawasan ini berkisar 5.856 mm/th. Sedangkan suhu rata-rata 24 ° C.


Di kawasan Tahura R. Soerjo ini masih terdapat 3 air terjun lagi, yaitu Air Terjun Gumandar di Pasuruan, Air Terjun Puthuk Kursi (Coban Cangar) dan Air Terjun Kembar Watu Ondo di Kabupaten Mojokerto.


Legenda

Banyak cerita yang dikisahkan oleh tetua desa ini, mengenai asal mula air terjun tersebut di beri nama Air Terjun Tretes. Sejak tahun 1930, alkisah dahulu kala ada seorang pajabat perkebunan yang mencoba untuk membudidayakan tanaman kopi di areal pegunungan desa tersebut, sembari memanfaatkan air yang mengalir dari atas pegunungan itu. Namun, entah mengapa setelah selesai melakukan beberapa aktivitas bertanamnya, pejabat belanda yang bernama Tekad ini setiap sore harinya sering terduduk di areal air yang menetes dari atas gunung itu.
Saat ia hendak menanam kelapa sawit, ternyata air yang sering ia tunggui itu tidak juga mengalir, bahkan sesekali airnya hanya menetes sedikit demi sedikit. Pak tekad pun, mencoba untuk meminta beberap warga pribumi untuk melihat air tetesan dari atas gunung itu. Selang beberapa jam warga pun lantas berbong-bondong membuat tumpeng dan membawa sepasang kucil untuk ritul di areal air terjun tersebut.
Ritual pun dijalankan sembari mengawinkan kucing yang mereka bawa untuk acara persembahan meminta air dari pengunungan itu. Alhasil upacara yang dilangsungkan oleh beberap warga tersebu kenyataannya membuahkan hasil dan air yang ia harapkan turun dari puncak itu akhirnya terjadi secara setetes demi setetes. Dan akhirnya dinamakan lah air terjun Tretes oleh warga sekitar.
Lokasi

Terletak di Dusun Pengajaran, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur.

Peta dan Koordinat GPS:


Aksesbilitas

Berjarak ± 40 km arah Tenggara pusat kota Jombang.  Untuk menuju Komplek Obyek Wisata Air Terjun Tretes dapat dicapai melalui 2 (dua) jalur, yaitu Pertama, melalui wilayah Kabupaten Jombang, berupa jalan setapak yang melewati bukit dan sungai.  Jalan ini hanya berupa jalan setapak tanpa penunjuk arah apapun.  Panjang jalan dari tempat parkir ke lokasi ± 5 km.

Kedua, melalui wilayah Kabupaten Kediri ke kecamatan Kandangan.  Setelah sampai di pasar Kecamatan Kandangan belok ke kiri di pertigaan ke arah menuju Galengdewo.  Kondisi jalan ini berupa jalan batu yang dapat dilalui oleh kendaraan roda 4 seperti jeep dan sejenisnya. Panjang jalan dari tempat parkir ke lokasi ± 1 km.


Bagi yang menggunakan kendaraan umum dari terminal Kepuhsari naik angkutan umu dengan kode B2 atau F menuju Gudo.  Setelah sampai Gudo berganti kendaraan menuju pasar Kandangan.  Sayangnya angkutan umum hanya sampai di pasar ini. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju lokasi sejauh kurang lebih 1 km.

Fasilitas dan Akomodasi

Fasilitas atau bangunan penunjang kegiatan wisata air terjun hanya terdapat beberapa warung pada ujung jalan batu yang melalui wilayah Kabupaten Kediri. Sarana pendukung lainnya pada umumnya masih bersifat alami.  Selain itu tidak adanya area parkir kendaraan sehingga harus menitipkan kendaraan pada warga sekitar dengan bayaran beberapa rupiah

Air Terjun Roro Kuning - Nganjuk

0 komentar

Air Terjun Roro Kuning berada di ketinggian 600 m dpl dan memiliki tinggi antara 10-15 m.  Air terjun ini mengalir dari tiga sumber dari Gunung Wilis yang mengalir merambat di sela-sela bebatuan padas di bawah pepohonan hutan pinus.  Kemudian menjadi air terjun yang membentuk trisula.  Dan karena proses mengalirnya itulah maka masyarakat Desa Bajulan menamakan air terjun merambat.

Di sekitar lokasi air terjun ini juga bisa dijumpai Air Terjun Ngunut setinggi ± 55 m, Air Terjun Pacoban Ngunut setinggi ± 95 m dan Air Terjun Pacoban Lawe setinggi ± 75 m.   Jarak dari air terjun Roro Kuning menuju air terjun Pacoban Ngunut sekitar 4 km.  Sedangkan untuk Coban Lawe dan Air Terjun Ngunut, harus berjalan kurang lebih 3 km lagi. Untuk menuju ke tiga air terjun tersebut sebaiknya mempersiapkan fisik sebelum kesana, karena jalannya cukup terjal.

Selain keindahan alam, air terjun Roro Kuning juga memiliki nilai sejarah. Di sekitar lokasi ini terdapat monumen perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan Jenderal Sudirman saat memimpin perang gerilya melawan Belanda pada tahun 1949. Selain menumen, di tempat ini juga terdapat sebuah rumah sangat sederhana yang pada masa perjuangan dahulu sempat ditempati Pak Dirman selama satu minggu. Karena itulah selain menikmati keindahan alam, pengunjung air terjun Roro Kuning juga bisa sekaligus mengenang perjuangan Panglima Besar Sudirman.

Legenda

Nama Roro Kuning berasal dari
Ruting dan Roro Kuning putri raja Kadiri dan Dhoho yang berkuasa sekitar abad ke 11-12.  Ruting yang aslinya bernama Dewi Kilisuci dan Roro Kuning yang sebenarnya Dewi Sekartaji adalah putri semata wayang Lembu Amiseno dari Kerajaan Doho.

Ketika kedua putri raja itu sakit, di kerajaan tidak ada yang bisa menyembuhkan.  Runting sakit kuning dan Roro Kuning sakit gondok dan kulit.  Untuk mencari kesembuhan kedua putri raja mengembara masuk keluar hutan belantara, naik gunung turun gunung dan akhirnya singgah di lereng Gunung Wilis Desa Bajulan.  Ketika sedang merenungi nasibnya sang putri bertemu dengan Resi Darmo dari Padepoan Ringin Putih desa Bajulan.

Di sinilah dua putri raja dirawat dan diberi obat ramuan tradisional oleh sang Resi yang sakti. Dengan ramuan dedaunan, sakit putri raja akhirnya bisa sembuh.  Dalam proses penyembuhannya, putri Runting dan Kuning sering mandi di air terjun yang kemudian diabadikan oleh sang Resi menjadi nama air terjun.


Sumber:
http://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-timur/air-terjun-roro-kuning---nganjuk

Air Terjun Sedudo Nganjuk

0 komentar

Air Terjun Sedudo berada di ketinggianan 1.438 meter di atas permukaan laut (dpl) di sisi timur kawasan Gunung Wilis, dengan ketinggian air terjun sekitar 105 meter.
Air terjun Sedudo sudah terkenal sejak jaman Majapahit yang mana air terjun ini diyakini sebagai Tirta Suci yang mengalir dari kahyangan.  Bahkan Para Raja, Bangsawan dan Pendeta pada jaman itu sering mempergunakan untuk upacara ritual, yaitu memandikan arca atau senjata pusaka dalam upacara Parna Prahista, yang kemudian sisa airnya dipercikan untuk keluarga agar mendapat berkah keselamatan dan awet muda.
Hingga sekarang pihak Pemkab Nganjuk secara rutin melaksanakan acara ritual Mandi Sedudo setiap tanggal 1 Suro bulan Sura (kalender Jawa).  Konon mitos yang ada sejak zaman Majapahit pada bulan itu dipercaya membawa berkah awet muda bagi orang yang mandi di air terjun tersebut.

Legenda
Dulu kawasan Sedudo merupakan tempat pertapaan Ki Ageng Ngaliman, tokoh pelopor penyebaran agama Islam di Nganjuk waktu itu. Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, maka setiap bulan Suro sebuah upacara ritual selalu digelar. Ritual yang diberin nama pengambilan Air Sedudo itu diisi dengan acara iring-iringan gadis berambut panjang yang berbusana adat Jawa, berjalan perlahan menuju kolam yang berada tepat di bawah air terjun. 
Mereka percaya, air yang mengalir tak henti-hentinya mengalir di Sedudo, bersumber dari tempat keramat, yakni tempat di mana para dewa bersemayam. Tak heran, ketika malam tahun baru Hijriyah 1 Muharram, atau biasa dikenal malam 1 Suro oleh masyarakat Jawa, ribuan pengunjung selalu memadati Sedudo. Di tengah dinginnya air terjun Sedudo, mereka mandi beramai-ramai di kolamnya.
Aspek sejarah lain, khususnya tentang pemanfaatan Sedudo oleh kalangan raja dan ulama di zaman Kerajaan Majapahit dan kejayaan Islam, sangat mempengaruhi kepercayaan masyarakat tentang khasiat air terjun tersebut. Di jaman Majapahit Sedudo sering digunakan untuk mencuci senjata pusaka milik raja dan patih dalam Prana Pratista. Sementara di zaman kerajaan Islam, Sedudo sangat dikenal sebagai kawasan pertapaan Ki Ageng Ngaliman.
Lokasi
Terletak di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Propinsi Jawa Timur.
Peta dan Koordinat GPS: 7° 46' 9.61" S  111° 45' 56.89" E 

 
Aksesbilitas
Berjarak sekitar 30 km arah selatan ibukota kabupaten Nganjuk dengan melewati daerah Kecamatan Berbek dan Sawahan.  Lokasi objek wisata ini sangat mudah dijangkau dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum (seperti bus) maupun kendaraan pribadi dengan kondisi jalan umumnya baik dan beraspal mulus. Hanya saja, karena lokasinya di gunung, jalan menuju air terjun Sedudo cenderung menanjak, naik-turun, dan berkelok-kelok. Kondisi jalan seperti ini tentu sulit untuk dilewati oleh kendaraan jenis bus. Karena itu, bila berniat ke air terjun Sedudo, sebaiknya gunakan kendaraan roda empat non bus.  Meski tidak ada angkutan umum yang langsung menuju obyek wisata, tapi banyak mobil sewaan yang siap mengantar.
Setelah melewati gerbang utama dan membayar karcis akan ditemui jalan dua arah, ke atas menuju Air Terjun Sedudo, sedangkan ke bawah menuju Agrowisata Ganter dan Air Terjun Singokromo.  Dari gerbang ini perjalanan menanjak masih berlanjut sekitar dua kilometer.  Setelah melewati satu pos penjagaan lagi, barulah terdengar gemuruh Air Terjun Sedudo yang sudah di depan mata.   Untuk menuju ke pelataran air terjun harus berjalan menuruni tangga sekitar 5 menit.


Tiket dan Parkir
Harga tiket masuk  adalah Rp 2500/orang.  Tarif parkir kendaraan roda dua dipungut Rp 1.000, sedangkan kendaraan roda empat Rp 2.000.
Fasilitas dan Akomodasi
Fasilitas yang dimiliki di tempat wisata ini umumnya cukup baik dan lengkap seperti ruang ganti, kolam tempat berendam atau berenang, toilet, tempat istirahat dan berbagai rumah makan serta toko cinderamata.  Bagi yang membutuhkan penginapan juga tersedia hotel yang berada di sekitar kawasan ini.
Sumber:
http://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-timur/air-terjun-sedudo---nganjuk

Coban Rondo Batu Malang

0 komentar

Coban Rondo  memiliki ketinggian sekitar 84 m dan berada di ketinggian 1.135 meter dari permukaan laut.  Airnya berasal dari sumber di Cemoro Dudo, lereng Gunung Kawi dengan debit 150 liter per detik pada musim hujan dan 90 liter per detik di musim kemarau.  Curah hujan rata-rata 1.721 mm/th, dengan bulan basah pada bulan Nopember sampai bulan Maret dan bulan kering pada bulan April sampai dengan Oktober dengan suhu rata-rata +/- 22°C.

Air terjun ini berada
dalam wilayah KPH Perum Perhutani Malang Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Pujon dan Resort Polisi Hutan Pujon Selatan Petak 89G.
Sebelum menjadi Coban Rondo, sebetulnya di atasnya ada air terjun kembar yang disebut Coban Manten. Mengalir ke bawah, air terjun itu menyatu menjadi Coban Dudo. Uniknya, Coban Dudo tersebut mengalir ke bawah menjadi Coban Rondo.


Sumber air dari tiga air terjun tersebut berada di Kepundan, satu dataran yang tanpa pohon satu pun berada di atas Coban Manten. Mereka yang ingin melihatnya, selain harus berhati-hati juga perlu ekstratenaga. Sebab, selain jalan licin, juga cukup jauh antara 3-4 km.
 

Legenda

Air Terjun Coban Rondo menyimpan legenda unik, bermula dari sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi, sedangkan mempelai pria bernama Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro. Setelah usia pernikahan mereka menginjak usia 36 hari atau disebut dengan Selapan (bahasa jawa). Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro, yang merupakan asal dari suami. Namun orang tua Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena usia pernikahan mereka baru berusia 36 hari atau disebut selapan. Namun kedua mempelai tersebut bersikeras pergi dengan resiko apapun yang terjadi di perjalanan.
Ketika di tengah perjalanan keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono, yang tidak jelas asal-usulnya. Nampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati, dan berusaha merebutnya. Akibatnya perkelahian antara Joko Lelono dengan Raden Baron Kusumo tidak terhindarkan. Kepada para pembantunya atau disebut juga puno kawan yang menyertai kedua mempelai tersebut, Raden Baron Kusumo berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang terdapat di Coban atau air terjun. Perkelahian antara Raden Baron Kusumo dengan Joko Lelono berlangsung seru dan mereka berdua gugur. Akibatnya Dewi Anjarwati menjadi seorang janda yang dalam bahasa jawa disebut Rondo.  Sejak saat itulah Coban atau air terjun tempat bersembunyi Dewi Anjarwati dikenal dengan Coban Rondo.  Konon di bawah air terjun terdapat gua tempat tinggal tempat persembunyian Dewi Anjarwati dan batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri yang merenungi nasibnya.

Lokasi
Terletak di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur.

Peta dan Koordinat GPS:
7° 53' 5.86" S  112° 28' 38.28" E  


Aksesbilitas
Berjarak 12 km dari Kota Batu atau ± 24 km dari Kota Malang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.  Akses ke air terjun Coban Rondo ini sangat mudah dengan jalan yang sudah beraspal baik.  Jika dari jalan raya arah Batu - Pujon, Malang, setelah melalui tanjakan yang landai dan jalan berkelok-kelok dan terkadang tajam, maka akan sampai di puncak perbukitan.  Sebuah papan nama dengan ukuran besar akan memberikan petunjuk untuk belok ke arah kiri keluar dari jalan raya guna menemukan obyek wanawisata Coban Rondo.

Dari patung sapi perjalanan dilanjutkan sekitar empat kilometer untuk sampai ke air terjun Coban Rondo. Pada dua kilometer sebelum masuk kawasan akan ditemui papan bertulisan "Welcome to Wana Wisata Coban Rondo" Kemudian jalanan terus menurun dan suasana hutan semakin terasa. Di tempat yang melandai, gubuk-gubuk pedagang dan berbagai jenis kendaraan berjajar. Di situlah terminal akhir pengunjung berkendaraan. Selanjutnya dengan sedikit melintasi tanjakan tak kurang dari dua menit sampailah ke lokasi air terjun.
Bagi yang menggunakan angkutan umum, ambil bis jurusan Malang dari Surabaya (Rp. 12.000,- per orang). Lalu tumpangi bemo dari Terminal Arjosari, Malang, jurusan Landungsari (Rp. 1 .500,- per orang). Lanjutkan dengan bis tujuan Kediri via Pujon, turun di Patung Sapi yang merupakan pintu gerbang ke Coban Rondo (Rp. 2.500,-).  Dari sana, tersedia ojek yang siap mengantar hingga ke lokasi. 
 
Setelah tiba di tempat parkir perjalanan dilanjutklan dengan berjalan kaki sekitar 200 m menuju lokasi air terjun berada.
Tiket dan Parkir

Tiket masuk ke air terjun ini sebesar Rp 3000.  Sedangkan biaya parkir kendaraan roda empat sebesar Rp 3.000 atau kendaraan roda dua sebesar Rp 1000. 

Fasilitas dan Akomodasi


Di dalam area Coban Rondo banyak terdapat warung-warung yang menjajakan makanan dengan harga yang cukup terjangkau.  Juga tersedia sarana tempat beribadah bagi umat muslim, panggung terbuka, area camping ground dan toilet.

Untuk yang mencari tempat penginapan dapat diperoleh di
daerah wisata Songgoriti, sekitar 5-8 km dari lokasi Air Terjun Coban Rondo.  Harga penginapan di daerah itu berkisar antara Rp. 50.000 hingga Rp. 150.000 per malam.

Sumber:
http://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-timur/coban-rondo---pandansari---malang

 

Coban Manten Batu Malang

0 komentar

 
 Coban Manten atau dikenal juga sebagai Coban Kembar berada di ketinggian 1300 m dpl yang bisa ditempuh melalui bumi perkemahan, dengan jarak sekitar 4 km dari Coban Rondo.  Dinamakan Coban Manten karena ada dua air terjun yang berdiri sejajar layaknya pasangan pengantin di pelaminan. Tinggi airnya mencapai 85 meter, namun obyek ini biasanya hanya dikunjungi para pendaki gunung karena jalannya yang sulit, menanjak dan melewati semak belukar.


Air terjun ini merupakan rangkaian air terjun dari coban tengah dan coban rondo, air terjun ini merupakan air terjun tertinggi dari ke 2 air terjun tersebut. Dalam perjalanan menuju tempat ini, memerlukan waktu sekitar 2 jam. Air terjun ini sangat direkomendasikan kepada pecinta alam maupun para penikmat alam. 

Lokasi
Terletak di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur.

Aksesbilitas

Berjarak sekitar 4 km dari Coban Rondo ke arah hulu.  Dari pintu masuk menuju coban rondo langsung menuju Ballitas.  Di sebelah Ballitas ini terdapat sebuah jalan menuju ke atas, ambil jalan tersebut dan ikuti sepanjang kira-kira 2 km hingga tiba areal hutan.  Kondisi jalan ini sangat licin jika musim hujan harena masih berupa jalan tanah.  Teruslah berjalan pada jalan besar, karena di beberapa titik ada percabangan dengan jalan kecil. 
<http://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-timur/coban-manten>

Pertemuan 2 Aplikasi Web dengan PHP dan MySQL

Pertemuan 1 Aplikasi Web dengan PHP dan My SQL

Pertemuan 3 Aplikasi Web dengan PHP dan MySQL

 
jatim adventure © 2011 Theme made with the special support of Maiahost for their cheap WordPress hosting services and free support.